Muhammad Fachri "CDT"
Kamis, 10 Maret 2016
English Sentences
Subject, Verb, Complement and Modifier.
Subject adalah noun, pronoun, adjective, atau konstruksi lain (berperan sebagai noun atau adjective) yang mengikuti verbs of being atau linking verb serta berfungsi menerangkan atau merujuk subjek kalimat.
Verb (kata kerja) adalah suatu kata yang berfungsi untuk menunjukkan tindakan dari subject, menunjukkan peristiwa atau keadaan.
Complement adalah noun, pronoun, adjective atau konstruksi lain yang berakting seperti noun atau adjective yang berfungsi mendeskripsikan atau merujuk kepada direct object (DO).
Modifier adalah kata, phrase, atau clause yang berfungsi sebagai adjective atau adverb yang menerangkan kata atau kelompok kata lain.
Contoh :
Adul - is watching - Fire - tonight
Subject - verb phrase - complement - modifier of time
Past tense, Present tense, Future tense.
Past tense adalah suatu bentuk kata kerja sederhana untuk menunjukkan bahwa suatu kejadian terjadi di masa lampau. Contoh : I studied economic management for almost 4 years.
Present tense adalah suatu bentuk kata kerja untuk menyatakan fakta, kebiasaan, atau kejadian yang terjadi pada saat ini. Contoh : The ship leaves the harbour this night at 7 o’clock.
Future tense adalah suatu bentuk kata kerja yang digunakan untuk mengungkapkan bahwa suatu aktivitas akan sudah selesai pada titik waktu di masa depan.
Contoh : At this time next month, I’ll have finished school.
Kamis, 16 April 2015
Kata Pengantar
Kata Pengantar
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata'ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul Pengaruh Citra Merek dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian KFC. Penulisan ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga Penulisan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penulisan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya Penulisan ini.
Semoga dengan penulisan ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Tangerang, 17 april 2015
Penyusun
Kamis, 26 Maret 2015
PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN CITRA MEREK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KFC
PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN CITRA MEREK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KFC
Oleh:
Muhammad Fachri
Npm: 14212919
kls: 3ea04
Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen
Universitas Gunadarma Depok
email: codot16@gmail.com
ABSTRAK
Fenomena
yang berkembang di masyarakat yaitu adanya kecenderungan terjadinya perubahan
gaya hidup, akibat dari ekspansi industri makanan yang berkembang kedalam
bentuk restoran siap saji. Persaingan antara perusahaan penghasil produk
makanan cepat saji saat ini juga sangat kompetitif. Cara memenangkan persaingan
tersebut adalah restoran harus berusaha untuk dapat mengetahui apa yang menjadi
kebutuhan dan keinginan konsumen, sehingga konsumen memutuskan melakukan
pembelian produk mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Kulitas
produk, dan citra merek terhadap keputusan pembelian makanan siap saji KFC di MARGONDA Depok. Jenis penelitian ini adalah
penelitian asosiatif dan menggunakan alat analisis regresi linier berganda.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen yang melakukan pembelian
di KFC MARGONDA Depok. Sampel diambil dari para konsumen KFC yang berdomisili
di Universitas Gunadarma. Hasil penelitian menunjukkan kualitas produk dan
citra merek signifikan terhadap pengambilan keputusan konsumen yang membeli di
KFC Margonda Depok. Manajemen KFC Margonda sebaiknya mempertahankan dan
meningkatkan kualitas produk dan citra merek sehingga pembelian konsumen lebih
meningkat lagi.
PENDAHULUAN
Persaingan dunia bisnis
khususnya dibidang industri makanan menuntut berbagai macam usaha untuk lebih
kreatif dan inovasi dalam mengembangkan produknya agar dapat bertahan di dunia
bisnis. Terlebih lagi di dalam globalisasi dan perkembangan teknologi yang
sangat pesat, perusahaan di tuntut untuk bersaing secara cermat dan cepat
tanggap didalam melihat peluang, ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan
baik itu perusahaan dalam posisi pemimpin pasar maupun pengikutnya. Maka dari
itu persiapan dari bentuk, terutama dalam segi teknis kualitas produk, harus
diperhatikan dengan seksama sehingga persaingan yang semakin ketat tersebut,
setiap usaha perlu meningkatkan kekuatan yang ada dalam perusahaannya dengan
cara memunculkan perbedaan atau keunikan yang dimiliki perusahaan dibandingkan
dengan pesaing untuk dapat menarik peminat konsumen.
Industri makanan di
Indonesia semakin berkembang dan semakin beraneka ragam. Banyak jenis maknan
yang di tawarkan oleh produsen bisnis makanan untuk memenuhi kebutuhan para
konsumen, mulai dari makanan cepat saji KFC. Perusahaan sejenis lain yang telah
berdiri, Merek ini mencakup worldwide untuk jangkauan pasar dan hingga kini
masih tegak berdiri dengan jenis produk yang di tawarkan: ayam goreng, soup,
twister, burger, kentang goreng, jus lemon. Rasa yang membedakan ayam ini
dengan para pesaing lainya membuat konsumen ingin membelinya.
Sebelum konsumen
menentukan produk mana yang akan dikonsumsikan terlebih dahulu biasanya mereka
memandingkan produk yang satu dengan produk lain yang sejenis. Menurut Aeker
(1997:127) terkait dengan keputusan-keputusan pembelian, maka kualitas mampu
mengefektifkan semua elemen program pemasaran. Hal ini diperkuat oleh ries
(2000:51) yang mengatakan bahwa “kualitas produk akan menjadi pertimbangan
penting bagi pembelian”. Wendy Van Rijswijk dalam jurnal penelitian menyatakan
bahwa kualitas produk makanan yang baik meliputi rasa,bentuk,aroma, tingkat
kematangan dan sebagainya, yang akan menjadi pertimbangan konsumen dalam
mengevaluasi produk kemudian mengarah kepada keputusan pembelian.
Tujuan penelitian
1.
Mengetahui pengaruh kualitas produk terhadap keputusuan pembelian makanan siap saji KFC.
2. Mengetahui pengaruh citra merek terhadap
keputusan pembelian makanan
siap saji KFC.
3. Mengetahui
pengaruh kualitas produk, dan citra merek terhadap keputusan pembelian makanan siap saji KFC.
LANDASAN
TEORI
Manajemen Pemasaran
Definisi pemasaran menurut Rismiati dan Suratno
(2003:3) adalah suatu proses sosial dan manajerial dengan mana seseorang atau
kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan
dan pertukaran produk serta nilai dengan seseorang atau kelompok lain.
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan
dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan kelompok lain (Kotler 2005:6).
Pengertian Produk
Pengertian produk (
product ) menurut Kotler & Armstrong, (2001:346) adalah
segala sesuatu yang dapat
ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli,
digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan.
Kualitas Produk
Salah satu
keunggulan dalam persaingan ini terutama adalah kualitas produk yang dapat
memenuhi keinginan konsumen. Bila tidak sesuai dengan spesifikasi maka produk
akan ditolak. Sekalipun produk tersebut masih dalam batas toleransi yang telah
ditentukan maka produk tersebut sebaiknya perlu menjadi catatan untuk
menghindari terjadinya kesalahan yang lebih besar diwaktu yang akan datang.
Demikian juga konsumen dalam dalam membeli suatu produk konsumen selalu
berharap agar barang yang dibelinya dapat memuaskan segala keinginan dan
kebutuhannya. Kotler dan Armstrong (2008:347) menyatakan bahwa “Kualitas produk
adalah kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsinya yang meliputi
daya tahan, keandalan, ketepatan, kemudahan, operasi dan perbaikan serta
atribut lainnya”. Bila suatu produk telah dapat menjalankan fungsi-fungsinya
dapat dikatakan sebagai produk yang memiliki kualitas yang baik.
Pengertian Merek
Merek menurut Asosiasi Pemasaran Amerika adalah suatu nama, istilah,
tanda, simbol, atau rancanga, atau kombinasi dari semuanya, yang dimaksudkan
untuk mengindentifikasi barang atau jasa penjual atau kelompok penjuak dan
untuk mengindeferensikannya dari produk atau jasa lain yang dirancang untuk
memuaskan kebutuhan yang sama (Kotler dan Keller, 2007 dalam jurnal Sundjoto
dan Agus, 2012).
Citra Merek
Menurut Keller (dalam Jurnal Rizan, Basrah, dan Yuni, 2012), citra merek
adalah tentang merek yang direflesikan konsumen yang berpegang pada ingatan
konsumem. Sedangkan menurut Kotler (2006:266), citra merek adalah penglihatan
dan kepercayaan yang terpendam di benak konsumen, sebgai cerminan asosiasi yang
tertahan di ingatan konsumen. Kemudian menurut Aeker, mengatakan bahwa citra
merek merupakan sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dan melekat di benak
konsumen. Dari definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa citra merek
merupakan kumpulan presepsi konsumen daalam sebuah produk yang di rangkai dari
ingatan-ingatan konsumen terhadap merek tersebut.
Keputusan Pembelian
Keputusan
pembelian adalah beberapa tahapan yang dilakukan oleh konsumen sebelum
melakukan keputusan membeli suatu produk (Kotler dan Keller 2007:223).
Hipotesis
penelitian
Hipotesis penelitian
ini adalah :
H1 : Terdapat pengaruh kualitas produk terhadap
keputusan pembelian pada produk KFC.
H2 : Terdapat pengaruh citra merek terhadap
keputusan pembelian pada produk KFC.
H3 : Terdapat pengaruh kualitas produk, Citra merek
terhadap keputusan pembelian KFC.
METODE PENELITIAN
Teknik Pengambilan Sampel
Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian sebagai
sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian.
Anggota populasi dapat berupa benda hidup maupun benda mati, dimana sifat-sifat
yang ada padanya dapat diukur atau diamati populasi dalam penelitian ini adalah
mahasiswa/i Universitas Gunadarma di kampus Kelapa Dua Depok.
Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi. Metode dalam pengambilan sampel pada penelitian ini
menggunakan metode non probability
sampling yang berarti teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang
atau kesempatan sama bagi setiap anggota populasi untuk di pilih menjadi
sampel. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yang artinya teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (sugiyono, 2008), sehingga pada
penelitian ini melibatkan 100 responden mahasiswa/i Universitas Gunadarma
kampus Kelapa Dua Depok.
Definisi Operasional
Variable
Dalam
penelitian ini ada dua variable yang akan dianalisa :
Variabel
X (variable Independen)
Merupakan
variable yang mempengaruhi variabel terikat. Dalam penelitian ini yang
menjadi variabel X yaitu kualitas
produk, citra merek, terhadap makanan siap saji KFC
Variabel
(Y) (variable dependen)
Merupakan variabel yang dipengaruhi oleh
variabel independen (variabel x). dalam penelitian ini yang menjadi variabel Y
yaitu Keputusan Pembelian terhadap makanan
siap saji KFC. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi
variabel dependen. Variabel
Kamis, 19 Maret 2015
Tugas Softskill(Review Jurval 2)
GAYA HIDUP DAN PERILAKU PEMBELIAN
EMAS PUTIH DI KOTA JAMBI
Latar Belakang
Pemasaran berkembang dengan pesat dan
memahami perilaku konsumen menjadi salah satu strategi dalam keberhasilan
memasarkan produk. Menghasilkan suatu produk yang diinginkan konsumen akan
mengefisienkan kegiatan pemasaran ,melalui pemahaman perilaku konsumen akan
diperoleh informasi bagaimana konsumen mengembangkan sejumlah alternatif dalam
pembeliannya. Informasi ini akan menjadi fokus kegiatan pemasaran untuk
mendesain produk,harga,bauran promosi,distribusi sampai dengan sistem pelayanan
sesuai dengan yang diperlihatkan konsumen melalui perilakunya. Menurut Shiffman
dan Kanuk (2000) adalah “Consumer behavior can be defined as the behavior that
customer display in searching for, purchasing, using, evaluating, and disposing
of products, services, and ideas they expect will satisfy they needs”.
Pengertian tersebut bermakna bahwa perilaku konsumen merupakan perilaku yang
diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan
mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen
untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang
ditawarkan. Dengan demikian konsumen akan mengembangkan sejumlah alternatif
untuk sampai kepada keputusan membeli atau tidak membeli suatu produk atau
jasa. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen antara lain faktor
budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Gaya hidup merupakan salah satu indikator
dari faktor pribadi yang turut berpengaruh terhadap perilaku konsumen. Jika
diartikan gaya hidup merupakan pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh
kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan seseorang
secara keseluruhan yang berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga
mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang dan menggambarkan bagaimana
mereka menghabiskan waktu dan uangnya. Oleh karena itu dalam kaitannya sebagai
faktor yang berpengaruh terhadap perilaku konsumen gaya hidup sering dikaitkan
dengan produk dan jasa tertentu yang berhubungan dengan kelas sosial seseorang.
Dimana dalam keputusan pembelian harga bukan menjadi pertimbangan utama namun
prestise,kenyaman,dan penerimaan lingkungan menjadi pendorong kuat dalam
pertimbangan pembelian.
Landasan Teori
Pengertian perilaku konsumen menurut
Shiffman dan Kanuk (2000) adalah “Consumer behavior can be defined as the
behavior that customer display in searching for, purchasing,using, evaluating,
and disposing of products, services, and ideas they expect will satisfy they
needs”. Pengertian tersebut berarti perilaku yang diperhatikan konsumen dalam
mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau
ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya
dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan. Selain itu menurut Loudon
dan Della Bitta (1996) perilaku konsumen adalah: “Consumer behavior may be
defined as the decision process and physical activity individuals engage in
when evaluating, acquiring, using, or disposing of goods and services”. Dapat
dijelaskan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan
fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai,
mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa. Menurut
Ebert dan Griffin (1995) consumer behavior dijelaskan sebagai: “the various
facets of the decision of the decision process by which customers come to
purchase and consume a product”. Dapat dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk
membuat keputusan tentang suatu produk yang dibeli dan dikonsumsi.
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan
hubungan antar dua variabel. Mengacu pada pendapat Sekaran (1992) maka jenis
penelitian ini termasuk pada eksplanatory research. Desain penelitian merupakan
cross section studies dengan pertimbangan desain ini relatif sederhana. Metode
penelitian adalah survey sampel.
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian di Kota Jambi dengan
pertimbangan sesuai dengan masalah dan tujuan yang hendak dicapai, kemudahan
pengumpulan data, faktor efisiensi waktu dan biaya.
Populasi dan Sampel
Unit sampel dalam penelitian ini
adalah Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perempuan yang pernah
membeli emas putih dan berdomisili di Kota Jambi. Penarikan sampel dalam
penelitian ini menggunakan purposive sampling. Jumlah populasi secara pasti
tidak diketahui, oleh karena itu ditetapkan jumalh responden yang menjadi
sampel penelitian berjumlah 100 orang.
Definisi Operasional Variabel
1) Gaya hidup (X) yaitu pola hidup di
dunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Indikator
yang digunakan adalah waktu luang (X1.1), minat (X1.2), pandangan-pandangan
(X1.3),tahapan dalam kehidupan (X1.4),penghasilan (X1.5),pendidikan (X1.6), dan
lokasi tempat tinggal (X1.7).
2). Perilaku Konsumen (Y) yaitu
perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari,membeli, menggunakan,
mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat
memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi
produk atau jasa yang ditawarkan. Adapun indikator yang digunakan
mencari,membeli,menggunakan,alternatif pilihan dan mengabaikan.
Uji Validitas dan Reliabilitas
Instrumen Sebelum dipergunakan
kuestioner perlu dilakukan pengujian terhadap validitas dan reliabilitasnya.
Masrun (dalam Solimun,2000) menyatakan bahwa bilamana koofisien korelasi antara
skor suatu indikator dengan skor total seluruh indikator sama atau lebih besar
dari 0,3 (r 0,3),
maka instrumen tersebur dianggap valid. Untuk menguji reliabilitas instrumen
pengukuran digunakan prosedur Cronbrach’s Alpha. Menurut Malhotra suatu
instrumen dianggap sudah cukup reliable bilamana nilai Alpha lebih besar atau sama dengan 0,6. Hasil
pengujian menunjukkan nilai koefisien korelasi berada diatas 0,3 yaitu 0,434
sampai dengan 0,824. sementara crobrach alpha menunjukkan nilai sebesar 0,61
sampai dengan 0,65.
Metode Analisis Data Teknik analisis
data yang digunakan :
1. Transformasi Likert Transformasi likert
adalah suatu teknik transformasi untuk mengubah data berskala ordinal menjadi
quasi interval. Digunakan untuk mengubah variable- variabel mengenai
pandangan-pandangan responden yang berskala ordinal menjadi quasi interval agar
memenuhi persyaratan skala data untuk analisis regresi.
2. Tes Cronbach's Alpha Tes Cronbach's Alpha
adalah suatu teknik statistika untuk menilai reliabilitas variabel-variabel
penelitian. Digunakan untuk mengevaluasi reliabilitas variabel mengenai
pandangan-pandangan responden tentang gaya hidup dan perilaku konsumen. 3.
Analisis Regresi Analisis regresi digunakan untuk menguji pengaruh antara dua
variabel yaitu variabel gaya hidup dan perilaku pembelian. Dengan persamaan :
Yi = 0 + 1X1
+ 2X2 +3X3 + e
PEMBAHASAN
Keseluruhan variabel yang dgunakan
untuk menjelaskan gaya hidup,perilaku pembelian dan hubungan antara keduanya
setelah dilakukan pengujian dengan cronbrach alpha menunjukkan bahwa
keseluruhan reliabel dengan angka sebesar 0,61 dan 0,64, dimana batas suatu
variabel dapat dinyatakan reliabel adalah sebesar lebih besar atau sama dengan
0,6 .Dengan demikian keseluruhan variabel dapat digunakan dalam pengujian lebih
lanjut. Sebelum pengujian dengan menggunakan uji statistik transformasi likert
dilakukan sehingga data telah masuk ke dalam kategori interval dan memenuhi
syarat untuk dilakukan pengujian. Tujuan dilakukan pemasaran salah satunya
adalah bagaimana meningkatkan kemungkinan dan frekuensi konsumen melakukan
kontak dengan produk, membeli dan menggunakannya dan melakukan pembelian ulang.
Produk dan ciri-ciri produk bisa mempengaruhi kognisi (pikiran), afeksi
(perasaan) dan perilaku dari konsumen. Ciri-ciri produk dapat dievaluasi oleh
konsumen dalam hal kesesuaian dengan tata nilai, kepercayaan dan pengalaman
masa lampau mereka. Pemasaran dan informasi lainnya juga mempengaruhi apakah
pembelian dan penggunaan suatu produk akan menjanjikan sesuatu yang bermanfaat.
Konsumen dalam membeli tidak hanya didasarkan pada ciri-ciri produk akan tetapi
juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti harga, citra toko, kemasan,
nama merek dan identitas merek juga dapat menjadi faktor yang dipertimbangkan.
Dengan demikian terdapat hubungan yang erat perilaku konsumen dengan produk.
Dalam menganalisis hubungan konsumen produk harus memperhatikan karakteristik
konsumen dan karakteristik produk. Karakteristik konsumen perlu diperhatikan
karena konsumen itu beragam dalam keinginan untuk mencoba suatu produk baru.
Gaya hidup merupakan salah
bagian dari faktor kepribadian yang
mampu menstimuli perilaku konsumen. Pada dasarnya Gaya hidup mencerminkan
perilaku konsumen dan seringkali memiliki hubungan dengan kelas sosial
tertentu. Berdasarkan penelusuran terhadap karakteristik responden diketahui
bahwa sebagian besar responden berusia antara 20 sampai dengan 30 tahun (67%)
dengan status sudah menikah (45%),berpendidikan SMA/sederajat (60%),pekerjaan
sebagai pegawai swasta (42%) dan bertujuan membeli emas putih sebagai perhiasan
(65%). Berdasarkan penghitungan statistik ditemukan bahwa terdapat pengaruh
gaya hidup terhadap perilaku pembelian konsumen produk perhiasan emas putih .
Hal ini ditunjukkan dengan angka sebesar 6.703 signifikan pada alpha sebesar
0,05%.. Hasil ini berarti H0 ditolak yang mengandung makna bahwa terdapat
hubungan secara linear antara gaya hidup terhadap pembelian konsumen. Dengan demikian
hasil penelitian ini mendukung teori bahwa gaya hidup merupakan salah satu
faktor yang berpengaruh terhadap perilaku konsumen. Cara konsumen menghabiskan
waktu luang merupakan faktor yang menyebabkan konsumen melakukan pembelian
perhiasan emas putih, 51% responden menyatakan setuju dan sangat setuju
terhadap pernyataan tersebut. Minat konsumen terhadap sesuatu yang dianggap
penting disekitar lingkungan merupakan faktor yang menyebabkan mereka membeli
perhiasan emas putih (62%). Pandangan- pandangan konsumen baik terhadap diri
sendiri maupun terhadap orang lain merupakan faktor yang menyebabkan mereka
membeli perhiasan emas putih (70%). Tahap-tahap yang telah dilalui dalam
kehidupan (life cycle) merupakan faktor yang menyebabkan kosumen membeli perhiasan
emas putih (72%). Penghasilan yang konsumen peroleh selama bekerja merupakan
faktor yang menyebabkan mereka membeli perhiasan emas putih (83%). Pendidikan
konsumen merupakan faktor yang menyebabkan konsumen membeli perhiasan emas
putih (67%). Lokasi tempat konsumen tinggal merupakan faktor yang menyebabkan
konsumen membeli perhiasan emas putih (62%) Gaya hidup erat hubungannya dengan
kelas sosial tertentu dan karakteristik produk tertentu pula. Jenis produk
tertentu seperti perhiasan emas putih bahkan memiliki daya tarik tertentu yang
menyebabkan konsumen mengembangkan pertimbangan lain selain harga dalam
mendorong pembeliannya. Karakteristik produk terdiri dari beberapa hal seperti
Kompatibilitas adalah sejauhmana suatu produk konsisten dengan afeksi,kognisi,
dan perilaku konsumen saat ini.misalnya, jika kondisi-kondisi lainnya dianggap
sama, jika suatu produk ternyata tidak membutuhkan perubahan penting pada
nilai-nilai dan kepercayaan konsumen atau pada perilaku pembelian dan
penggunaan konsumen maka konsumen tersebut akan lebih cenderung mencoba produk
tersebut ketimbang produk lainnya. Untuk produk perhiasan emas putih yang
sedang menjadi tren di masyarakat khusunya kaum perempuan,keputusan pembelian
tidak terkait dengan adanya kepercyaan akan nilai-nilai tertentu. Pemakaiannya
identik dengan jenis perhiasan lain seperti berlian,emas kuning dan perak.
Sehingga pertimbangan pembelian lebih kepada trend yang berlaku dan keamanan
penggunaan yang lebih dibandingkan dengan jenis perhiasan lain. Kemampuan untuk
uji coba menjelaskan sejauh mana suatu produk dapat dicoba dalam jumlah yang
terbatas, atau dipilah ke dalam jumlah-jumlah yang kecil jika untuk melakukan
uji coba ternyata membutuhkan biaya yang tinggi.misalnya, jika kondisi lainnya
dianggap sama, jika suatu produk memungkinkan dilakukannya uji coba tanpa harus
membeli atau uji coba pembelian dengan jumlah terbatas, cenderung lebih
mempengaruhi konsumen untuk mencoba. Berdasarkan observasi kondisi ini tidak
berlaku untuk jenis perhiasan ini. Permintaan perhiasan akan muncul jika
didukung oleh kemampuan dan kemauan untuk melakukan pembelian (Product-market).
Dengan demikian kemampuan uji coba tidak sesuai dengan karakteristik produk
ini. Kemampuan untuk diteliti mengacu pada sejauh mana produk atau dampak yang
dihasilkan produk tersebut dapat dirasakan oleh konsumen lain. Produk baru yang
dikenal masyarakat dan sering didiskusikan cenderung diadopsi lebih cepat.
Perhiasan emas putih pada awalnya merupakan campuran untuk emas kuning,terutama
untuk perhiasan sehari-hari yang memberikan kesan tidak glamour,sederhana namun
elegan bagi pemakainya. Permintaan emas putih setiap tahunnya cenderung
meningkat,bahkan menjadi perhiasan yang banyak diminati setelah berlian.
Kecepatan adalah seberapa cepat manfaat suatu produk dipahami oleh konsumen.
karena sebagian konsumen masih berorientasi pada kepuasan yang dengan cepat
dirasakan ketimbang yang ditunda, produk yang dapat memberikan manfaat lebih
cepat cenderung berkemungkinan lebih tinggi untuk paling tidak dicoba oleh
konsumen. Selanjutnya kesederhanaan yaitu sejauh mana suatu produk perhiasan
emas putih mudah dimengerti dan digunakan konsumen.misalnya jika kondisi
lainnya dianggap sama, sebuah produk yang pada saat merakitnya tidak
membutuhkan upaya yang rumit serta pelatihan konsumen yang mendalam cenderung
lebih berpeluang untuk dicoba.
Manfaat relative adalah sejauh mana
suatu produk memiliki keunggulan bersaing yang bertahan atas kelas produk,
bentuk produk, dan merek lainnya. Persaingan di kelas perhiasan cukup tinggi
karena perhiasan terkait erat dengan selera. Ditambah lagi Simbolisme produk (
makna suatu produk atau merek bagi konsumen) dan bagaimanakah pengalaman
konsumen ketika membeli dan menggunakannya. Keseluruhan karakteristik tersebut
mengakibatkan strategi pemasaran, kualitas strategi pemasaran yang digunakan
juga memiliki peran apakah pemasaran produk perhiasan emas putih itu berhasil
dan berkemampulabaan.
KESIMPULAN
Perilaku konsumen akan ditunjukkan dengan
sejauh mana mereka melalui tahap-tahap keputusan pembelian dan didorong oleh
beberapa faktor untuk sampai pada keputusan pembelian sebuah produk. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup merupakan faktor yang berpengaruh
terhadap perilaku pembelian . Hal ini mengandung implikasi bahwa karakteristik
produk seperti perhiasan emas putih sangat dipengaruhi gaya hidup , dimana
simbolisme produk menjadi kekuatan dari produk yang menyebabkan produk ini
banyak disenangi oleh konsumen terutama kaum perempuan. Terkait dengan hal
tersebut,maka diperlukan strategi pemasaran yang berkualitas untuk memastikan
produk perhiasan menyentuh sisi kepribadian dan psikologis konsumen untuk dapat
berkemampulabaan.Temuan ini bisa berbeda untuk karakteritik produk yang
lain,oleh karena itu diperlukan lebih banyak penelitian yang terkait dengan
gaya hidup, seperti menentukan segmentasi konsumen yang didasarkan pada gaya
hidup.
SUMBER : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=193562&val=6507&title=Analisa%20Credibility%20Celebrity%20Endorser%20Model%20:%20Sikap%20Audience%20terhadap%20Iklan%20dan%20Merek%20Serta%20Pengaruhnya%20Pada%20Minat%20Beli
Tugas Softskill (Review Jurnal 1)
PENGARUH BAURAN PENJUALAN ECERAN (RETAILING MIX) TERHADAP
CITRA DEPARTMENT STORE (STUDI PADA RAMAYANA DEPARTMENT STORE KOTA JAMBI)
Latar Belakang
Perkembangan department store
sebagai salah satu bentuk usaha retail di Indonesia semakin marak. Tuntutan
kebutuhan akan tempat belanja dengan ragam produk yang bervariasi, suasana
belanja yang nyaman, kemudahan dalam menemukan produk, menjadi penyebab bertambahnya
jumlah department store. Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih
membutuhkan kemudahan untuk belanja menjadi penyebab menjamurnya bisnis retail
di Indonesia. Situasi persaingan usaha retail di Indonesia semakin ketat.
Ketatnya persaingan ini ditandai oleh banyaknya berdiri mini market, swalayan
dan department store baru, semakin lengkap produk yang ditawarkannya, kualitas
produk semakin diperhatikan, peningkatan pelayanan, perancangan/penataan
ruangan, kelengkapan dan kualitas fasilitas pendukung, serta semakin gencarnya
promosi. Department store merupakan suatu sarana berbelanja dengan tawaran
berbagai jenis produk dari berbagai produsen untuk memenuhi kebutuhan dan
kinginan konsumen.
Banyaknya ragam produk maupun merek yang
dijual di department store, membuat pelanggan menjadi bingung dalam menentukan
pilihan akhir. Oleh karena itu, peran bauran penjualan eceran menjadi semakin
penting. Perkembangan bisnis di Kota Jambi beberapa tahun terakhir, termasuk
dalam bidang perdagangan ritel berkembang sangat pesat. Banyak pusat-pusat
perbelanjaan mulai dari yang berskala kecil sampai yang besar sekelas
department store berlomba didirikan dan dioperasikan semaksimal mungkin oleh
pemiliknya. Diantara pusat perbelanjaan yang besar tersebut antara lain
Mandala, Abadi, Matahari, Mall Kapuk, Victory, Trona , Meranti dan Ramayana.
Tujuan
Penelitian
1. Untuk menganalisis pengaruh
unsur bauran penjualan yang meliputi merchandise, harga, lokasi, promosi,
fasilitas fisik, personil/ wiraniaga terhadap citra Department Store Kota
Jambi.
2.
Untuk menganalisis variabel yang dominan berpengaruh terhadap citra Ramayana
Department Store Kota Jambi.
LANDASAN
TEORITIS
Fungsi
Perdagangan Eceran Fungsi perdagangan eceran menurut Davidon at al (1988:4),
antara lain :
1) Menyediakan produk atau jasa
yang diantisipasi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
2) Menawarkan produk dan jasa untuk konsumsi
individu atau keluarga.
3)
Memperoleh nilai pertukaran melalui penanganan transaksi yang efisien, penanganan
lokasi, menyediakan waktu pembelian yang menyenangkan, dan informasi yang
berguna untuk membuat keputusan serta harga yang bersaing.
Pengertian Bauran Penjualan
Eceran Berman at al (1998:92) menyatakan bahwa, bauran penjualan eceran adalah
kegiatan yang terdiri dari lokasi toko, prosedur operasi barang dan jasa yang
ditawarkan, harga, suasana toko, pelayanan dan promosi. Berkowitz (1989:420)
menyatakan bahwa bauran penjualan eceran adalah kegiatan yang terdiri dari :
Jurnal Manajemen Pemasaran Modern
Vol. 1 No.1 Januari-Juni 2009 ISSN 2085-0972
E-mail: jurnalmpmfeunja@gmail.com
http://jurnalmpmfeunja.wordpress.com 9
1) Produk dan pelayanan.
2) Taktik komunikasi.
3) Distribusi fisik.
Unsur-unsur Bauran Penjualan
Eceran
Barang Dagangan (Produk) Afiff,
(1994:96), mengungkapkan bahwa penyedian barang dagangan (produk) yang dijual
(merchandising) dalam bisnis ritel merupakan salah satu faktor yang sangat
penitng. Produk merupakan elemen sangat penting dari suatu program pemasaran,
karena kebijakan harga, komunikasi dan distribusi tidak terlepas bahkan harus
sesuai dengan kebijakan mengenai produk. Produk didefinsikan sebagai atribut
fisik, jasa dan simbolis yang memberi manfaat atau kepuasan kepada pemakai atau
pembeli.
Harga
Menurut Kotler (2000:93), “ harga
adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh pembeli untuk mendapatkan produk
tertentu”. Harga ini diungkapkan dengan berbagai istilah seperti tarif, iuran,
sewa dan sebagainya
Lokasi
Menentukan lokasi binsis ritel
tidak mudah, karena membutuhkan pertimbangan yang teliti dan informasi yang
benar, agar dapat memproyeksikan keadaan lingkungan pada masa yang akan datang
apabila perusahaan melakukan ekspansi usaha. Tujuan dari penentuan lokasi yang
tepat bagi perusahaan agar dapat beroperasi dengan efisien dan dapat mencapai
sasaran yang telah ditetapkan. Dalam memilih lokasi, perusahaan harus
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi biaya, kecepatan waktu, kemudahan
sarana yang diperlukan dan sesuai dengan peraturan pemerintah.
Promosi
Promosi adalah semua bentuk
komunikasi yang berupaya mempengaruhi perilaku pembelian pada kosumen
potensial, dengan tujuan untuk menjelaskan kepada konsumen tentang menfaat dan
nilai yang melekat pada suatu produk. Tjiptono (1999:219), mengungkapkan bahwa
: promosi merupakan suatu bentuk komunikasi pemasaran yang berusaha menyebarkan
informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas
perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk
yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.
Fasilitas
fisik Persepsi pelanggan terhadap suatu toko atau departmentt store dipengaruhi
oleh suasana yang dibentuk oleh penataan ruang fasilitas toko, oleh karenanya,
keadaan lingkungan toko merupakan aspek yang sangat penting. Beberapa unsur
yang perlu mendapat perhatian dalam hal ini, menurut Mudie at al dalam Tjiptono
(1996:25), antara lain :
1) Perencanaan spesial terhadap
respon yang diharapkan dari pelanggan
2) Perencanaan ruangan
3) Perlengkapan atau perabotan yang digunakan.
4) Tata cahaya.
5) Warna
Pelayanan Engel (1995:266)
mengungkapkan bahwa pelayanan dan kepuasan setelah transaksi merupakan suatu
hal yang penting bagi peritel untuk mempertahankan pelanggan yang ada sekarang.
Sehingga secara ekonomis, paritel yang sukses melaksanakan program pelayanan
yang ditujukan untuk memuaskan pelanggan yang ada sekarang daripada
menghabiskan dananya untuk memperoleh pelanggan baru.
Personalia/Wiraniaga Zeithaml at
al (1996:26), mengungkapkan bahwa elemen manusia termasuk orang-orang yang
terlibat langsung dalam menjalankan segala aktivitas perusahaan, merupakan
salah satu faktor yang berperan penting bagi semua organisasi.
Pengertian Citra Brand Barry at
al (1988:28), mengungkapkan bahwa In service the company name is the brand name.
Aaker (1991:7) mendefinisikan brand adalah a distinguishing name/or symbol
(such as a log, trade mark, or package design) intended to identify the goods
or services of either one seller or a group of seller, and to differentiate
those goods or services from those competitor.
Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas dapat
dikemukakan hipotesis sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara
bauran penjualan eceran (retailing mix) terhadap citra Ramayana departmentt
store Kota Jambi.
2. Bauran penjualan eceran yang dominan
berpengaruh terhadap citra Ramayana Department Store adalah variabel lokasi.
Metode
Penelitian
Desain
Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan
adalah deskriptif dan verifikatif. Penelitian deskriftif bertujuan mendeskripsikan
bauran penjualan eceran (retailing mix) pada Ramayana departmentt store Kota
Jambi, serta citra Ramayana department store Kota Jambi. Sedangkan penelitian
verifikatif bertujuan menguji pengaruh bauran penjualan eceran (retailing mix)
terhadap citra Ramayana department store Kota Jambi. Metode penelitian yang
digunakan adalah survey deskriftif dan survey eksplanatory. Unit analisis dalam
penelitian ini adalah konsumen Ramayana departmentt store Kota Jambi, berukuran
100 responden.
Jenis
dan Sumber Data
Adapun jenis data yang diperlukan dalam
penelitian ini yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Sedangkan sumber
data yaitu data primer data skunder.
Teknik
Penarikan Sampel
Populasi adalah Keseluruhan
subjek penelitian (Arikunto, 1993:102). Dari pendapat tersebut, maka yang
menjadi populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Ramayana department store
Kota Jambi. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen
Ramayana Department Store Kota Jambi selama periode April hingga September
2007, yang berjumlah 16.859 orang. Mengingat besarnya jumlah populasi, maka
peneliti mengambil sampel sebagai responden. Adapun sampel dalam penelitian ini
adalah sejumlah 100 orang.
Hasil
Penelitian
Uji
Validitas
Dari hasil pengujian validitas yang
dilakukan dengan koefisien Guilford, dengan menggunakan program SPSS, diperoleh
hasil bahwa semua item pernyataan yang digunakan dalam penelitian ini
dinyatakan valid karena semua item mempunyai korelasi positif dengan kriterium
(skor total) atau semua item pernyataan menghasilkan nilai r diatas 0,4, dan
semua item menujukkan arah yang positif, sehingga dapat diambil kesimpulan
bahwa semua item pernyataan dalam penelitian ini valid.
Uji
Realibilitas
Uji realibilitas yang dilakukan dengan
korelasi Spearman Brown dengan menggunakan program SPSS, diperoleh hasil bahwa
semua item pernyataan dinyatakan reliable, karena dari perhitungan diperoleh
hasil nilai r.i > 0. Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa semua
nilai r.i menunjukkan angka di atas 0. Jadi dapat disimpulkan bahwa semua item
pernyataan dalam penelitian inti dapat dikatakan reliable.
Pembobotan
Nilai
Karena tingkat pengukuran skala dari kuesioner
adalah ordinal, maka agar dapat diolah lebih lanjut harus diubah terlebih
dahulu menjadi skala interval dengan menggunakan Method of Succesive Iternal
(MSI). Setelah dilakukan transformasi, maka diperoleh hasil nilai interval.
Analisis
Regresi Berganda
Untuk menguji pengaruh bauran
penjualan eceran terhadap citra Ramayana Department Store Kota Jambi, digunakan
regresi berganda, juga untuk menguji hipotesis yang telah diungkapkan dalam bab
sebelumnya. Dimana X1 = Produk, X2 = Harga, X3 = Lokasi, X4 = Promosi, X5 =
Fasilitas fisik, X6 = Pelayanan, X7 = Wiraniaga, dan Y = Citra Ramayana
Department Store Kota Jambi. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda yang
dilakukan dengan program SPSS, diketahui bahwa nilai R Square sebesar 0,610.
Hal ini berarti bahwa variable terikat atau dependen yaitu citra Ramayana
Department Store Kota Jambi (Y) dipengaruhi sebesar 61,0 % oleh variable bebas
atau
independent yaitu : X1 = Produk,
X2 = Harga, X3 = Lokasi, X4 = Promosi, X5 = Fasilitas fisik, X6 = Pelayanan, X7
= Wiraniaga, sedangkan sisanya sebesar 39,0 % dipengaruhi oleh variable lain di
luar 7 variabel di atas yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Uji
Signifikansi Secara Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk menguji
apakah variable independent secara bersama-sama atau simultan mempengaruhi
variable dependen atau variable terikat. Jika nilai F hitung lebih besar dari F
Tabel, maka dapat disimpulkan bahwa variable independent (X) yang terdiri dari
X1 = Produk, X2 = Harga, X3 = Lokasi, X4 = Promosi, X5 = Fasilitas fisik, X6 =
Pelayanan, X7 = Wiraniaga, berpengaruh signifikan terhadap variable dependen (Y)
yaitu citra Ramayana Department Store Kota Jambi. Berdasarkan hasil analisis
yang diketahui bahwa nilai F hitung menunjukkan nilai sebesar 20,577
(signifikansi F=0.000), Sedangkan F Tabel diperoleh nilai sebesar 2.10. Jadi F
hitung lebih besar dari F Tabel (20,577 > 2.10) atau sig F kecil dari 5%
(0.000<0.05). Hal ini dapat diartikan bahwa secara simultan atau
bersama-sama variable X1 = Produk, X2 = Harga, X3 = Lokasi, X4 = Promosi, X5 =
Fasilitas fisik, X6 = Pelayanan, X7 = Wiraniaga, berpengaruh secara signifikan
terhadap variable citra Ramayana Department Store Kota Jambi (Y).
KESIMPULAN
1.
Tanggapan konsumen terhadap bauran penjualan eceran pada Ramayana Departement
Store Kota Jambi sudah baik, ini dilihat dari rata-rata nilai jawaban responden
menunjukkan angka 5,54.
2.
Tanggapan konsumen terhadap citra Ramayana Departement Store sudah baik, ini
dilihat dari rata-rata nilai jawaban responden menujukkan angka 5,47.
3.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa bauran penjualan eceran secara
bersamasama atau simultan mempunyai pengaruh signifikan terhadap citra Ramayana
Department Store.
4.
Secara parsial, semua variabel bauran penjualan eceran pada Ramayana Dept.
Store yang berjumlah 7 variabel yaitu produk, harga, lokasi, promosi,
fasilitas, pelayanan dan wiraniaga berpengaruh positif terhadap citra Ramayana
Department Store.
5. Diketahui bahwa variabel ke tiga bauran
penjualan eceran yaitu variabel lokasi, merupakan variabel yang paling dominan
dalam mempengaruhi citra Ramayana Department Store Kota Jambi dengan koefisien
regresi (b) sebesar 0,214.
SUMBER :
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=193562&val=6507&title=Analisa%20Credibility%20Celebrity%20Endorser%20Model%20:%20Sikap%20Audience%20terhadap%20Iklan%20dan%20Merek%20Serta%20Pengaruhnya%20Pada%20Minat%20Beli
Senin, 30 Juni 2014
UU Perkoperasian Dibatalkan Karena Berjiwa Korporasi
Roh korporasi terus merasuk ke sendi-sendi kehidupan negara, termasuk jiawa usaha yang sesuai dengan kegotongroyongan: koperasi. Gara-gara bernuansa korporasi, UU No. 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK). Tak tanggung-tanggung, yang dibatalkan adalah seluruh materi muatan Undang-Undang tersebut.
Selain karena berjiwa korporasi, UU Perkoperasian telah menghilangkan asas kekeluargaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas koperasi. Menurut Mahkamah, UU Perkoperasian 2012 bertentangan dengan UUD 1945.
Untuk menghindari kekosongan hukum, Mahkamah menyatakan berlaku kembali UU Perkoperasian 1992. ”Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian berlaku untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya UU yang baru"
Permohonan ini diajukan Gabungan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (GPRI) Provinsi Jawa Timur, Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) Jawa Timur, Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati), Pusat Koperasi An-Nisa Jawa Timur, Pusat Koperasi Bueka Assakinah Jawa Timur, Gabungan Koperasi Susu Indonesia, Agung Haryono, dan Mulyono. Mereka menguji Pasal 1 angka 1, Pasal 50 ayat (1), Pasal 55 ayat (1), Pasal 56 ayat (1), Pasal 66, Pasal 67, Pasal 68, Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 74, Pasal 75, Pasal 76, Pasal 77, Pasal 80, Pasal 82, dan Pasal 83 UU Perkoperasian 2012.
Para pemohon menilai sejumlah pasal yang mengatur norma badan hukum koperasi, modal penyertaan dari luar anggota, kewenangan pengawas dan dewan koperasi itu dinilai mencabut roh kedaulatan rakyat, demokrasi ekonomi, asas kekeluargaan, kebersamaan yang dijamin konstitusi.
Misalnya, definisi koperasi menempatkan koperasi hanya sebagai ”badan hukum” dan/atau sebagai subjek berakibat pada korporatisasi koperasi. Membuka peluang modal penyertaan dari luar anggota yang akan dijadikan instrumen oleh pemerintah dan atau pemilik modal besar untuk diinvestasikan pada koperasi. Hal itu bentuk pengerusakan kemandirian koperasi. Karena itu, para pemohon meminta MK membatalkan pasal-pasal itu karena bertentangan dengan UUD 1945.
Selain karena berjiwa korporasi, UU Perkoperasian telah menghilangkan asas kekeluargaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas koperasi. Menurut Mahkamah, UU Perkoperasian 2012 bertentangan dengan UUD 1945.
Untuk menghindari kekosongan hukum, Mahkamah menyatakan berlaku kembali UU Perkoperasian 1992. ”Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian berlaku untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya UU yang baru"
Permohonan ini diajukan Gabungan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (GPRI) Provinsi Jawa Timur, Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) Jawa Timur, Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati), Pusat Koperasi An-Nisa Jawa Timur, Pusat Koperasi Bueka Assakinah Jawa Timur, Gabungan Koperasi Susu Indonesia, Agung Haryono, dan Mulyono. Mereka menguji Pasal 1 angka 1, Pasal 50 ayat (1), Pasal 55 ayat (1), Pasal 56 ayat (1), Pasal 66, Pasal 67, Pasal 68, Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 74, Pasal 75, Pasal 76, Pasal 77, Pasal 80, Pasal 82, dan Pasal 83 UU Perkoperasian 2012.
Para pemohon menilai sejumlah pasal yang mengatur norma badan hukum koperasi, modal penyertaan dari luar anggota, kewenangan pengawas dan dewan koperasi itu dinilai mencabut roh kedaulatan rakyat, demokrasi ekonomi, asas kekeluargaan, kebersamaan yang dijamin konstitusi.
Misalnya, definisi koperasi menempatkan koperasi hanya sebagai ”badan hukum” dan/atau sebagai subjek berakibat pada korporatisasi koperasi. Membuka peluang modal penyertaan dari luar anggota yang akan dijadikan instrumen oleh pemerintah dan atau pemilik modal besar untuk diinvestasikan pada koperasi. Hal itu bentuk pengerusakan kemandirian koperasi. Karena itu, para pemohon meminta MK membatalkan pasal-pasal itu karena bertentangan dengan UUD 1945.
Langganan:
Komentar (Atom)